![]() |
| Pendidikan Masih Mahal. |
Melalui seluruh siswa,
undangan disampaikan kepada orang tua, wali murid. Agar datang pada tanggal dan
hari yang telah ditentukan guna pembentukan Komite Sekolah Lanjutan
Tingkat Atas (SLTA) Negeri. Entah lagi bekerja atau kendala lain,
kenyataannya hanya sedikit orang tua, wali siswa yang datang. Tak sampai
sepertiga dari jumlah siswa. Karena jumlah yang hadir tak menjadi aturan, maka
rapat komite berlangsung aman tertib dan terkendali. Pengurus komite tahun
ajaran ke depan telah terbentuk.
Ketua terpilih seorang bapak yang cukup berwibawa, kebetulan beliau adalah anggota
DPR yang baru terpilih. Wakil Ketua Satu, adalah seorang Master Saint yang sekarang
sedang menjabat sebagai kepala bagian instansi di BUMN.
Sedangkan Wakil Ketua Dua seorang purnawirawan mantan kapolsek pada satu Kecamatan. Bendahara terpilih memang tak diragukan lagi, beliau seorang wanita karier yang suaminya pernah jadi camat. Selanjutnya
sekretaris dan pengurus lainnya, kebetulan semua pengurus adalah tokoh yang
mapan dalam ekonomi. Maaf… hampir lupa, ada juga salah seorang Pengurus Komite
adalah berprofesi sebagai tukang becak, tapi hanya seksi Penerangan Masyarakat.
Rapat lanjutan
menentukan anggaran dana Oprasional sekolah SLTA Negeri tersebut. Sempat
terjadi argumentasi antara tukang becak dengan anggota DPR tentang besarnya uang komite
yang akan dikutip. Sang tukang becak mohon agar para wali murid jangan terlalu diberatkan, karena sebagian besar wali siswa adalah ekonomi
menengah ke bawah. Atas serangan Kepala Sekolah, Wakil Ketua, dan Sekretaris,
akhirnya tukang becak kalah argumentasi. Maka ditetapkanlah besaran uang komite
per bulan Rp 100.000,- per siswa. Namun, ada lagi tambahan khusus buat kelas
sepuluh (murid baru) dikenakan biaya insidental Rp. 1.000.000,-/bulan, yang
boleh dicicil setahun berjalan.
Karena kalah diplomasi
sang tukang becak tak pernah hadir lagi dalam rapatlanjutan. Kepala sekolah
yang menghadiri rapat lanjutan tampak sumringah, beliau sangat senang akan besaran kutipan yang ditetapkan. Kepala sekolah serta pengurus
inti komite merayakan hasil rapat dengan makan bersama di sebuah restoran
terkenal. Keesokan harinya hasil keputusan rapat komite diberikan kepada
seluruh wali murid.
Salah seorang orang tua
murid meneteskan air mata setelah membaca surat edaran dari komite, kebetulan
dia pernah hadir sekali dalam rapat komite, tapi tak
pandai bicara dalam rapat, suka gemetar ketika akan berbicara. Ada rasa sedih
di hatinya membayangkan jika anaknya putus sekolah karena tak sanggup membayar
uang komite yang sangat besar di matanya. Sebagai penjual es keliling
dia sangat ingin menyekolahkan anaknya sampai sarjana, tapi melihat besaran
uang iuran sekolah anaknya per bulan, dia meragukan kemampuannya.
Dia terbayang pesan
uwaknya yang pensiunan kepala sekolah, ”Jangan kira
masuk sekolah negeri itu murah…, Ndok.” Demikian sepenggal kalimat uwaknya yang
diingatnya. Berita sekolah negeri yang murah hanya khayalan. Kembali bulir air
membasahi pipinya yang mulai berkeriput. Matanya menatap ke sepeda tua di
depannya, dengan kotak es di belakangnya. Dia tak kuat membayangkan anaknya
kelak berprofesi yang sama sepertinya, hanya sebagai penjaja
es keliling sambil berteriak di sepanjang jalan.
Dia masih menangis
pelan, dia meratapi biaya pendidikan yang mahal di
negaranya. Dia meratapi kepedulian pemerintah akan sekolah murah. Janji calon kepala daerah tentang sekolah murah hanya manis di bibir tapi sangat
pahit ditelan. Haknya sebagai anak bangsa untuk memperoleh pendidikan yang tertera dalam Undang-Undang Dasar 1945 pasal 31, nyaris tak
pernah dinikmatinya. “Ah.. .mungkin undang-undang tersebut hanya untuk warga
yang berduit,” pikirnya.
Di rumah yang lain
seorang penjahit sepatu haru biru mendecak
keberatan usai membaca surat edaran dari komite SLTA Negeri tempat anaknya menuntut ilmu. Ada rasa sedih bercampur benci di hatinya.
Setelah menanyakan jumlah kelas di sekolah anaknya, dia coba menghitung dana
komite yang terkumpul per bulannya. ada 24 kelas x 40 siswa per kelas,
berarti ada 960 siswa. Jika dikalikan 960 x Rp 100.000,- maka
hasilnya Rp 96.000.000,- (sembilan puluh enam juta rupiah) per bulannya yang
diperoleh komite sekolah tersebut.
Ditambah lagi uang
insidental buat anak kelas sepuluh yang terdiri atas delapan kelas, berjumlah
320 siswa berarti terkumpul Rp 320.000.000.- (Tiga ratus dua puluh juta rupiah)
/ tahun, maka per bulannya berjumlah Rp 26.600.000.- (Dua puluh enam Juta enam
ratus ribu rupiah). Jika uang komite dan uang insidental dijumlahkan maka Rp.
96.000.000.- + Rp. 26.600.000,- = Rp. 122.600.000,- (Seratus dua puluh dua juta enam ratus ribu rupiah) per bulan dana yang diperoleh komite sekolah.
Sang bapak penjahit
sepatu bertanya dalam hati, ”Uang sebanyak itu untuk apa saja? Bukankah sekolah
negeri sudah dibiayai oleh pemerintah? Bukankah guru-gurunya pegawai negeri
yang gajinya sudah ada dari pemerintah? Bukankah biaya pembangunan serta
bantuan lain telah disediakan pemerintah? Atau apakah telah berselancar korupsi di sekolah negeri tempat anaknya bersekolah….?!” Bapak penjahit sepatu bergumam berat penuh rasa kebencian.
Seiring waktu berjalan,
bagaikan detektif, bapak penjahit sepatu yang juga ketua ranting salah satu OKP
mencari tahu kegunaan uang komite sekolah anaknya tersebut. Kebetulan salah
seorang guru anaknya pernah menjahitkan sepatu kepadanya.
Ditambah lagi informasi dari anak penjaga kantin sekolah dan berbagi sumber
berita, akhirnya bapak ini tahu banyak cerita tentang aliran dana komite
sekolah anaknya. Bagaikan satgas hukum yang dibentuk Presiden SBY, bapak
penjahit sepatu memaparkan hasil investigasinya.
Uang komite digunakan
buat pembangunan parkir kendaraan. Buat perbaikan WC, buat pembelian meja kantor, sofa, pembangunan pagar
sekolah. Juga buat penggajian honor tukang kebun, tukang babat rumput, dll.. Kalau diselidiki sepintas sepertinya aliran dana bagus,
tetapi jika sampai ke tahap penyidik, ternyata aliran dana uang komite sekolah
yang besarnya Rp 122.600.000,- itu mengalir ke mana-mana yang tidak sepantasnya
menerimanya. Kepala sekolah serta ketua komitekecipratan dana tersebut. Laba
belanja pembelian barang atau pembangunan
parkirselalu digelembungkan. Semua rekayasa dana hasil
main mata antara kepala sekolah dengan ketua Komite.
Demikianlah temu pers
bapak tukang sepatu kepada tukang sepatu di samping kanan dan penjual es di sebelah kirinya. Ah… bapak ini kebanyakan nonton televisi, sehingga
cara bicaranya pun mirip Susno Duaji mantan areksrim yang melaporkan
kebobrokan institusinya. Tukang es yang mendengar cerita bapak ini mencoba
menimpali, ”Jangan memfitnah, Pak… berdosa.” Tapi dengan nada tinggi bapak
tukang sepatu menanggapi keberatan tukang es, persis seperti Susno Duaji, bapak
tukang sepatu juga bersumpah di depan temannya.
Ah…. terlepas dari benar
tidaknya cerita bapak tersebut, memang selayaknyapemerintah sangat perlu
memperhatikan biaya pendidikan yang terjangkau masyarakat kecil. Bagi bapak
yang kebetulan sebagai komite sekolah SLTA negeri, buatlah standard ukur
penetapan besaran uang komite atau kutipan lain bertolak dari penghasilan per kapita rakyat Indonesia secara keseluluruhan,
bukan berdasarkan standard pengurus komite yang notabene memiliki tingkat
ekonomi tinggi. Selanjutnya pemerintah perlu menyikapi keluhan bapak
penjahit sepatu ini.
Komite sekolah adalah
organisasi para orang tua, wali siswa yang berfungsi turut serta memajukan proses belajar-mengajar anaknya. Bersama pihak
sekolah komite sekolah membantu Pemerintah melengkapi
sarana-prasarana siswa guna tercapainya tujuan pendidikan. Guna
memenuhi kebutuhan belajar siswa, maka komite sekolah dibolehkan mengumpulkan dana dari para orang tua, wali dalam batas yang wajar, atau
mencari sumber dana dari yang lain yang tidak mengikat.
Pembenaran pengutipan
dana ini menjadi kebablasan di luar batas kesederhanaan. Seluruh biaya kegiatan
belajar-mengajar, sarana serta prasarana, dibebankan di pundak orang tua.
Besarnya dana kutipan dipoles indah seolah keputusan orang tua, wali. Padahal
hanya keputusan pengurus komite dengan kepala sekolah. Jarak antara pengurus
komite dengan orang tua, sangatlah jauh, nyaris terpisahkan.
Demikian juga jarak antara kepala sekolah dengan guru, kurang memperlihatkan
satu-kesatuan, karena tidak sedikit juga guru yang keberatan dengan besarnya
kutipan yang dibebankan. Guru yang prihatin akan penderitaan siswa akan
mengalami diskriminasi atau penekanan oleh kepala sekolah.
Tujuan komite guna memajukan sekolah mengalami perluasan arti menjadi medan bisnis yang
menggiurkan. Sehingga berlomba-lomba mendapatkan posisi ketua komite sekolah.
Fungsi komite mewakili komunitas wali murid seperti terpenggal di tengah jalan.
Bapak yang duduk menjadi pengurus Komite Sekolah tidak lagi mewakili orang tua
siswa. Komite Sekolah bersama pihak sekolah justru menekan orang tua dengan
berbagai kutipan yang menyengsarakan orang tua.
Bagaikan membelah bambu,
komite sekolah menanggapi keinginan pihak sekolah sembari menekan orang tua siswa yang memiliki tingkat ekonomi rendah. Membangun fasilitas
sekolah melalui kutipan paksa uang komite, uang insidental dan kutipan lain
yang besarnya di atas kewajaran. Orang tua merasakan komite sekolah bukan lagi
malaikat penolong mereka, tapi justru menjadi momok yang menakutkan.
Dalam berbagi pertemuan
ketua komite dengan kepala sekolah selalu berpelukan mesra merayakan
keberhasilan pembangunan fasilitas sekolah, mereka tak tau, atau tak mau tau
atas kesulitan orang lain. Tapi mereka memaksakan kehendak. Mereka tertawa di
atas penderitaan ratusan orang tua yang miskin. Mereka mengukur keberhasilan
atas pembangunan fisik semata. Terasa kurang bijaksana pembangunan fisik
sekolah dari sumber dana semata-mata dari orang tua siswa.
Jika memang pihak
sekolah dan komite harus membangun sekolah agar dianggap berhasil, dapat
menempuh cara lain. Apakah dengan mencari donatur luar, atau mendata orang tua
yang memiliki tingkat ekonomi yang tinggi sembari memohon bantuan. Masih banyak
cara lain yang lebih berkeadilan dengan nuansa psikologi sosial masyarakat.
Mereka mungkin lupa, mereka berada di sebuah negara yang
miskin yang masih punya banyak utang.
Jika seperti ini wajah
pendidikan kita maka peningkatan kualitas pendidikan tak akan berhasil. Jangan
hanya menitikberatkan pada kuantitas belaka tanpa memperhatikan kualitas
pendidikan. Pembangunan fisik sekolah hendaknya dibarengi dengan pembangunan jiwa yang madani. Pendidikan kejujuran, budi pekerti, serta kecerdasan
sosial juga diciptakan di setiap jenjang pendidikan. Kecerdasan intelektual
semata tanpa memperhatikan kecerdasan spiritual dan kecerdasan sosial bukan
tidak mungkin akan menghasilkan generasi bangsa yang pintar korupsi.
Pengalaman bapak tukang
sepatu tersebut dapat menjadi cambuk cemeti, guna instrospeksi diri buat
penyelanggara pendidikan yang baik. Komite sekolah sebagai bagian dari sekolah
juga harus memberikan pendidikan bagi generasi bangsa, jangan pernah menanamkan
kecerdasan intelektual tanpa kecerdasan sosial. Dengan melaksanakan pendidikan
yang jujur, transparan dan akuntabel maka pendidikan yang
berkarakter yang kita dambakan akan menjadi kenyataan dan semoga

0 Response to "Mahalnya Biaya Pendidikan di Negeri ini."
Posting Komentar